Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Budaya. Tampilkan semua postingan

Minggu, 05 Januari 2014

Prosa Hudan Hidayat: Mata AF


prosa untuk afrilia utami

1. mata

mungkin aneh kalau mata kita keluar dari liangnya untuk melihat apa yang ingin kita pandangi. apa yang ingin aku pandangi? apa yang ingin ia pandangi? kukira matanya sembunyi di sebuah ruang. mataku juga, sembunyi di sebuah ruang. ruang dari liang mata kami. mata kami sembunyi di liangnya sendiri.

suatu hari aku membujuk mataku. keluarlah kataku, lihat bagaimana keadaannya. kubarut-barut mataku dan aku tahu ia agak lelah. kubarut-barut lagi mataku dan aku yakin ia memang lelah.

aku kasihan kepada mataku. istirahat aja ya kataku.

aku tak jadi memintanya keluar dari liangnya. diam sajalah di sini, kataku sambil membarut-barut mataku. kamu lelah dan aku tidak tega memintamu berjalan. tadinya kalau kamu tidak lelah, aku ingin kamu berjalan ke sebuah tempat. aku masih ingin tahu tentang dia, tapi kamu lelah. jadi diam sajalah tak usah pergi. mataku diam saja. kukira dia mengantuk oleh barutan-barutan tanganku kepadanya.

aku berbaring dan punggungku berbaring di kursiku. kakiku terayun-ayun di bawah mejaku. panas sekali jari-jariku oleh tuts-tuts komputerku, yang siang malam tidak pernah kumatikan. pernah ia mati sendiri, kucas tak mau hidup. aduh kataku, kata mataku, ia lelah, kataku, oh iya juga. ia pasti lelah dan kata mataku, aku juga lelah dan begitulah tubuhku satu demi satu berbicara. aku juga kata tanganku dan kata punggungku, kukira aku yang paling lelah di antara kita.

aku diam saja. akhirnya aku tertidur sambil berbaring di kursiku.

tapi apakah aku tidur, sebab mataku rasanya telah keluar dari liangnya dan mulai mengerjakan mimpiku ingin melihat dia. siapa dia yang kamu ingin lihat, kataku dan mataku meminta agar aku diam. diam saja katanya, aku coba lihat dulu dia kini di mana.

aku pun diam dan lalu mulai sadar, sebenarnya aku bukan tertidur, tapi gelap oleh mataku telah keluar dari liang di wajahku ini. aku jadi terharu dengan mataku. kamu setia mata kataku, padahal aku tidak minta karena tahu dia lelah.

gelap di seputarku tapi mataku melihat ke sebuah ruang. di sini dia kata mataku dan tadi mataku berkeliling, mencari jalan dan akhirnya tersesat di jalan layang. aku pernah di sini tidak bisa pulang dan kamu berputar-putar seperti orang buta dan kita tidak bisa pulang di suatu malam.

aku tersipu oleh kini mataku telah jadi telingaku. telingaku jadi mataku oleh mataku tidak lagi di tempatnya. kupegang pegang mataku, tadi aku yakin tak lagi ada mataku. terpegang olehku liang kosong. tapi kini aku memegang daun telingaku. aku masih ragu, jadi aku memastikan lewat tanganku. kupegang daun telingaku dan di sana kosong. kupegang lagi mataku dan memang di sini daun telingaku. jadi aku kini yakin, telingaku telah jadi mataku sedang mataku tengah berjalan, jauh dari badanku kini.

aku menyimpulkan untuk diriku sendiri. jadi sebenarnya aku ini sedang mendengar bunyi dari mataku bukan memandangi hal ihwal lewat mataku. kupegang kesimpulan itu dalam keadaan gelap. mataku tak melihat di telingaku kini. aku hanya mendengar saja bunyi dari mataku yang lagi berjalan.

aku berbisik bisik kepada telingaku yang kini jadi mataku. apa yang kamu dengar kataku. diam dulu, kukira aku memang mendengar bunyi jauh di sana. iya aku memang melihat sesuatu di sini kata mataku. wah aku tidak melihatnya. apa ya yang dilihat oleh mataku jauh di sana.

aku menunggu. lama aku menunggu. telingaku tidak mendengar bunyi lagi. mataku tidak melihat dan mengirimkan bunyinya lagi. aku putus asa dan akhirnya diam saja. ah mataku telah pergi kataku. dia tidak mau kembali lagi. biarlah, itu haknya juga, dia pergi. mungkin dia memang ingin pergi sejak lama. tapi tidak tahu bagaimana caranya. telingaku juga, kukira dia juga akan meninggalkanku sebentar lagi.

entah mengapa aku jadi berpikir seperti itu. tidak kutanyakan kepada telingaku. tapi terpikir olehku, jangan jangan kedua tangan, juga kakiku, diam diam akan meninggalkanku juga.

aku berpikir kalau mereka pergi semua, aku ini akhirnya jadi apa. tidak kukatakan, lagi lagi aku diam. kupandangi kaki dan tanganku. tapi aku tak mampu memandangi mereka. hanya gelap di depanku. mataku belum kembali dari perjalanannya.

jadi aku harus menunggu. aku pun menunggu. lama aku menunggu. mataku belum juga kembali. daun telingaku akhirnya tidak mendengar apa apa lagi. kami tidak pernah lagi mendengar kabar dari mataku, yang kini entah di mana.

2. telinga

saat yakin mataku tak lagi kembali, aku hanya bisa pasrah dan kukenang kata-kataku sendiri, yang kuperah dari bahasa yang setia menemaniku. kita harus berbahagia dengan apa saja, termasuk, berbahagia hidup tanpa mata. mereka setuju denganku dan malah ikut membantu meyakinkan telingaku agar jadi mataku. jadilah matanya yang permanen, kudengar kata bahasa-bahasa itu. telingaku mengerti dan ia riang juga kini di mataku.

bulan ke tiga sejak aku kehilangan mata, telingaku benar-benar telah menjadi mataku. diikatnya dirinya seolah daun yang terikat dengan rantingnya. aku harus kuat di matamu ini, katanya. aku tersenyum dan diam saja saat telingaku tumbuh di liang mataku. tumbuhlah kataku di mataku ini. sesekali aku masih teringat dengan mataku, yang telah pergi tanpa kabar. kamu di mana, kataku saat aku teringat lagi padanya. apakah mataku mendengar perkataanku? dia jelas melihatku, mungkin dalam bayangannya yang jauh.

dia di mana sebenarnya?

kepergiannya begitu saja, keluar dari liang mataku, melihat-lihat, lalu tak kembali lagi. kalaulah ia telinga pasti mendengar kata-kataku ini. sayang ia mata. mata tak bisa mendengar, bukan? tapi telinga bisa mendengar. sejenak rasa sedih naik ke hatiku. andai aku kemarin meminta telinga yang pergi bukan mata, pastilah aku bisa memanggil kembali telingaku.

tapi sudahlah kataku, dan sudahlah ini lagi lagi kuperah dari dalam bahasa. bahasa telah mengajari aku segalanya. kamu baik kepadaku, dan mereka tersenyum. salah seorang terkikik dan berkata geli: iya, katanya lalu hihi, kami memang baik kepadamu. tapi kamu juga baik kepadaku. kudengar nada musik dari dialog itu. aku tersenyum dan kini mulai kembali ke mataku lagi.

saat aku memandang ke kaca, aku ingin sekali melihat mataku sendiri. tampakkanlah dirimu kataku. kata mataku, aku ingin sekali menampakkan diriku kepadamu. tapi sayang aku tidak bisa. kau dengar bukan aku tidak mau tapi tidak bisa. kau pasti mendengarku, seperti aku selalu mendengarmu.

aku diam saja, duduk terpekur di depan kaca. kuraba kaca itu dan kusentuh dengan kedua mataku. terasa bunyi yang halus keluar dari balik kaca. apakah mataku menitikkan air mata? jangan kataku, jangan menangis, jangan pernah menangis. kita masih hidup seperti orang lain, masih memiliki mata seperti orang lain.

ya tapi aku telinga bukan matamu, itu yang kudengar. aku juga ingin memandang-mandang. kadang capek juga hanya mendengar. ah kataku, kukira lebih letih diriku daripada dirimu itu. tapi tidak kukatakan. kubelai mataku dengan cara menggosok-gosokkannya ke kaca yang seukuran tubuhku. andai kaca ini berubah jadi mataku, alangkah senangnya aku kini. tapi ia tetap kaca, yang memuat diriku persis ke dalamnya.

kita pernah suatu hari memandang tubuh sendiri, yang lengkap dari balik kaca. tapi kini kita tidak bisa lagi memandang tubuh sendiri, yang masih lengkap dari balik kaca yang sama. andai kaca itu bergerak jadi bola mataku, pastilah mataku kini senang kembali ke daunnya lagi. jadi telingaku lagi. apa apa itu harus duduk di tempatnya. lagi lagi tak kukatakan, kupikirkan saja dalam hatiku.

3. malam

siang telah bergerak ke sore. sebentar lagi malam dan kita akan tambah gelap, telingaku, kataku di depan kaca tempat tubuhku ada di dalamnnya. iya sebentar lagi malam dan tubuh kita akan tenggelam. kudengarkan baik baik telingaku. kamu seperti seniman saja, dan yang ini aku katakan kepadanya. dia tertawa. aku seniman ya katanya. kalau aku seniman kamu itu apa, katanya menggodaku.
tubuh kami tenggelam dalam malam. gelap sempurna dan aku harus menekan tombol lampu agar cahaya kembali menyala. tapi lalu kuurungkan. untuk apa lagi cahaya itu kataku. sama saja ada cahaya atau tanpa cahaya. hari hariku akan tetap begini: diam diam merindukan mataku kembali lagi.

seorang penjaga hilir mudik di depan kamarku. kemarin ia agak kasar, tapi setelah akhirnya tahu aku baru kehilangan mata, ia jadi baik. suaranya tidak lagi mengancam. baik. baik pula katanya di sore yang telah diambil oleh malam ini. hidupkanlah lampu katanya, walau kamu tidak bisa melihat. tapi kami bisa melihatmu. lumayan kan, daripada tidak terlihat sama sekali.

aku menghidupkan lampu bukan oleh anjurannya. lelaki paruh baya itu telah berjalan ke kamar-kamar lain. ia memang senang seperti itu: setiap menjelang malam, satu demi satu langkahnya, ia perjalankan. berhenti di kamar-kamar, melirik ke dalam. berbicara sebentar lalu bergerak lagi. berhenti lagi, berbicara lagi. lalu tersenyum di atas kakinya sendiri.

kadang kupikir ia bukan meronda kami tapi entahlah, mungkin ada kesenangannya berjalan-jalan seolah meronda para tahanan. untuk apa coba melirik-lirik ke dalam seperti itu, lalu berbicara tanpa arah. terutama mengenjit-ngenjit saat berhenti, di kakinya sendiri. (bersambung)
https://soundcloud.com/afrilia/prosa-mata-oleh-jsth 

Sabtu, 04 Januari 2014

Inilah 33 Tokoh Sastra Paling Berpengaruh di Indonesia!

BANDARLAMPUNG, teraslampung.com—Buku “33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh” yang disusun Jamal D. Rahman dkk diluncurkan di Pusat  Dokumentasi Sastra H.B. Jassin, Jumat (3/1). Penyusun  buku, diwakili Jamal D. Rahman, mengatakan ada empat kriteria memasukkan nama tokoh sastra Indonesia ke dalam buku itu. Antara lain: Pertama pengaruhnya berskala nasional; kedua, pengaruhnya relatif berkesinambungan; ketiga, menempati posisi kunci, penting, dan menentukan; keempat, menempati posisi sebagai pencetus atau perintis gerakan baru yang melahirkan pengikut, penentang, dan melahirkan paradigma baru dalam kesusastraan Indonesia.

Berikut 33 nama sastrawan berpengaruh dalam satu abad terakhir di Indonesia:


1. Kwee Tek Hoay,
2. Marah Rusli,
3. Muhammad Yamin,
4. Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA)
5. Armijn Pane,
6. Sutan Takdir Alisyahbana
7. Achdiat karta Mihardja
8. Amir Hamzah
9. Trisno Sumardjo
10. H.B. Jassin,
11. Idrus,
12. Mochtar Lubis,
13. Chairil Anwar,
14. Pramoedya Ananta Toer,
15. Iwan Simatupang,
16. Ajip Rosidi,
17. Taufiq Ismail.
18. Rendra
19. NH Dini,
20. Sapardi Djoko Damono,
21. Arief Budiman,
22. Arifin C Noer
23. Sutardji Calzoum Bachri
24. Goenawan Mohamad,
25. Putu Wijaya,
26. Remy Silado,
27. Abdul HAdi WM
28. Emha Ainun Nadjib
29. Afrizal Malna,
30. Denny J.A.,
31. Wowok Hesti Prabowo,
32. Ayu Utami,
33. Helvy Tiana Rosa

Jumat, 03 Januari 2014

Buku ‘33 Sastrawan Indonesia Paling Berpengaruh’ Diluncurkan

Joni Ariadinata.Acep Zamzam Noor, Nenden Lilis A., Agus Sarjono, Jamal D. Rahman, dan Berthold Damshauser berpose dengan buku yang mereka susun saat acara peluncuran di PDS H.B. Jassin, Jakarta Jumat (3/1). (Foto: Dok)
JAKARTA, teraslampung.com—Pusat Dokumentasi Sastra H.B Jassin meluncurkan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, di PDS H.B. Jassin, Kompleks Taman Ismail Marzuki,Cikini, Jakarta, Jumat (3/1). Buku yang disusun oleh para sastrawan Indonesia itu diharapkan akan menjadi sumber referensi penting bagi perkembangan dan kemajuan sastra Indonesia.

Penyair Jamal D. Rahman, ketua tim penyusun buku, mengatakan buku setebal 777 halaman tersebut berisi 33 sastrawan Indonesia sejak tahun 1900 hingga kini. Menurut Jamal ke-33 tokoh sastra Indonesia paling berpengaruh itu adalah hasil seleksi panjang yang dilakukan oleh Tim 8 pada tahun 2013.

"Tokoh yang terpilih mulai dari Kwee Tek Hoay (1886-1952), Pramoedya Ananta Toer, Chairil Anwar, HB Jassin, sampai dengan Helvy Tiana Rosa yang lahir tahun 1970,” kata Jamal. 

Menurut Jamal tidak mudah menyaring ratusan sastrawan Indonesia menjadi 33 tokoh paling berpengaruh. 

“Sangat banyak sastrawan yang layak ditetapkan sebagai tokoh. Tim melakukan kajian dan debat yang melelahkan, mengenai siapa yang harus terpilih dan siapa yang tidak. Tentu ada subjektivitas tim juri . Namun, karena delapan tim juri ini memiliki reputasi dan bekerja secara independen, pilihan subjektivitas juri tetap dapat dipertanggung jawabkan secara akademik," kata Jamal.

Empat kriteria dijadikan acuan untuk menetapkan tokoh sastra Indonesia berpengaruh. Pertama, pengaruhnya tidak hanya berskala lokal, melainkan nasional. Kedua, pengaruhnya berkesinambungan, tidak menjadi kehebohan temporal atau hanya sezaman.

Ketiga, tokoh itumenempati posisi kunci, penting dan menentukan. Keempat, tokoh itu sebagai pencetus atau perintis gerakan baru yang kemudian melahirkan pengikut, penggerak, atau penentang.

Di antara 33 tokoh tersebut selama ini sudah sangat dikenal oleh publik sastra Indonesia. Antara lain Chairil Anwar, Sutan Takdir Alisjahbana, H.B. Jassin, Pramoedya Ananta Toer, Sutardji Calzoum Bachri, W.S. Rendra, Goenawan Mohammad, Taufik Ismail, dan Ayu Utami. 

Selain Jamal D. Rahman,  anggota tim penyusun adalah Acep Zamzam Noor, Agus R. Sarjono, Ahmad Gaus, Berthold Damshauser, Joni Ariadinata, Maman S.Mahayana, dan Nenden Lilis Aisyah.

Selasa, 24 Desember 2013

DKL Gelar Silaturahmi dan Panggung Sastrawan Lampung



Asaroedin Malik Zulqornain

Dewi Ria Angela/Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG--Menjelang tutup tahun 2013, panggung sastra Lampung kembali meriah dengan pembacaan karya puisi dan cerpen di Taman Budaya Lampung, Selasa malam (24/12). Pergelaran yang ditaja Komite Sastra Dewan Kesenian Lampung (DKL) itu menghadirkan sejumlah penyair dan cerpenis Lampung.

Para sastrawan yang tampil antara Asaroedin Malik Zulqornain, Isbedy Stiawan ZS, Syaeful Irba Tanpaka, Iswadi Pratama, Ahmad Yulden Erwin, Udo Z. Karzi,Ari Pahala Hutabarat, Inggit Putria Marga, Fitri Yani, dan Iskandar GB, Edi P, dan Yulizar Fadli.

Unit Mahasiswa Bidang Seni Umitra juga meramaikan acara dengan musikalisasi puisi Sutardji Calzoum Bachri dan Taufik Ismail.

Asaroedin Malik Zulqornain, cerpenis Lampung yang sudah lama malang melintang di dunia sastra nasional sejak 1984, membacakan cerpen tentang TKW.Cerpen humor bernada satir yang pernah dimuat di majalah Humor pada 1984 itu membuat para penonton terhibur. Sebab, cerpen yang dibacakan cerpenis senior Lampung itu banyak mengandung humor segar.

Kamis, 05 Desember 2013

Pawai Kembang Telur Meriahkan Peringatan 1 Muharam


Pawai kembang telur menyusuri jalan-jalan protokol Kota Bandarlampung
BANDARLAMPUNG—Kembang telur bagi sebagian besar warga muslim di Lampung bukanlah hal yang asing lagi. Traidi membuat kembang telur sudah berusia ratusan tahun dan masih hidup secara turun-temurun hingga kini. Kembang telur adalah hiasan berupa telur ayam yang sudah dimasak, dibalut ornamen kertas/plastik, diikat dengan benang pada seutas bilah bambu, dan ditancapkan pada sebatang anak pohon pisang.

Batang anak pohon pisang itu juga biasanya diberi aneka hiasan menarik.
Hiasan kembang telur biasa selalu ada ketika warga Muslim menggelar acara-acara syukuran. Misalnya syukuran mencukur rambut bayi, syukuran khitan, syukuran pernikahan, syukuran keberangkatan ibadah haji.

Ketika ribuan kembang telur diarak keliling kota, tentulah menjadi tontonan menarik. Itulah yang terjadi pada Sabtu (30/11), saat Pemerintah Kota Bandarlampung menggelar Pawai Kembang Telur dalam rangka memperingati Tahun Baru Islam 1 Muharam 1435 Hijriah. Tak kurang dari 6.500 kendaraan hias berupa mobil maupun sepeda motor mengikuti pawai kembang telur yang melintasi jalan-jalan protokol di Kota Bandarlampung.

Pawai kendaraan hias kembang telur ini rutenya dimulai dari Lapangan Merah Enggal, kemudian Jalan Sriwijaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Ir. Juanda, Jalan Dokter Susilo, Jalan P. Diponegoro, Jalan Jenderal Ahmad Yani, Jalan R.A Kartini, Jalan Kotaraja, Jalan Radin Inten, Jalan Ahmad Ibrahim, dan terakhir masuk ke Jalan Sriwijaya untuk berakhir di Lapangan Saburai Enggal.

Pawai yang di lepas langsung oleh Walikota Bandarlampung Drs. H. Herman HN ini merupakan kerjasama dari Pemerintah Kota Bandar Lampung dan Majelis Taklim Rachmat Hidayat mendapat apresiasi berupa rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) untuk kategori pesta kembang telur terbanyak di Indonesia.

Selain untuk memeriahkan pergantian tahun baru Islam, kegiatan yang diikuti oleh seluruh Kecamatan dan Kelurahan serta Sekolah-Sekolah se-Kota Bandar Lampung ini dimaksudkan untuk menjadi sarana hiburan bagi masyarakat juga dapat menjadi daya tarik wisata budaya di kota Bandarlampung.

Di Bandarlampung, tradisi pawai mengarak kembang telur dengan aneka hiasan sebenarnya sudah lama dilakukan secara mandiri oleh sejumlah kelompok warga. Biasanya warga Kota  Bandarlampung pada tingkat Rukun Tetangga (RT) atau Rukun Warga (RW) menggelar pawai kembang telur dan sepeda hias saat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW. Rute yang ditempuh peserta pawai biasanya juga sangat pendek, hanya mengelilingi wilayah RT atau RW.

Junaidi, 50, warga Kelurahan Gulak-Galik, Telukbetung Utara, berharap pawai kembang telur bisa menjadi agenda rutin tahunan untuk peringatan hari besar keagamaan. Dengan begitu, kata Junaidi, nuansa kegotongroyongan warga lebih terlihat.

“Peringatan Maulid Nabi dan 1 Muharam memang sebaiknya bisa dibuat serentak dan melibatkan banyak warga kota. Biar lebih meriah. Selain itu, anak-anak dan remaja juga akan terbiasa merayakan hari besar agama dengan nuansa yang lebih agamis,” kata Junaidi.

Penulis: Lintang Rosalina

Pameran Candi Digelar di Mal

Pameran Candi di Art and Culture Lotte Shopping Avenue, Jakarta, 2-8 Desember 2013.
JAKARTA, teraslampung.com—Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menggelar pameran "Kisah Negeri 1001 Candi" di Art and Culture Lotte Shopping Avenue, Jakarta, 2—8 Desember 2013.Pameran tersebut dimaksudkan untuk mendekatkan warisan budaya dengan masyarakat perkotaan.

"Kami ingin ‘memindahkan’ candi ke tengah-tengah kita, masyarakat perkotaan. Supaya informasi tentang candi, baik mengenai konsep pembangunan dan teknik pembangunan, sampai di masyarakat perkotaan," kata Sri Patmiarsi R, Kepata Sub-Direktorat Eksplorasi dan Dokumentasi Ditjen Kebudayaan Kemdikbud, di Jakarta, Kamis (5/12).

Sri mengatakan mal dipilih sebagai lokasi pameran untuk mendekatkan budaya fisik kepada masyarakat yang ada di perkotaan. Sehingga diharapkan, tidak hanya masyarakat di pedesaan yang mengenal candi, tetapi juga masyarakat perkotaan.

Sementara Sekretaris Ditjen Kebudayaan Gatot Gautama mengatakan, saat ini terdapat berbagai tantangan dalam pelestarian candi-candi di Indonesia. Di antaranya minim informasi masyarakat mengenai upaya konservasi dan pelestarian candi sebagai cagar budaya. Untuk mengatasi masalah tersebut, Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman menyelenggarakan pameran dengan memilih mall sebagai lokasinya.

"Tujuan pameran ini agar masyarakat dapat berperan dalam pelestarian warisan budaya bangsa, yang terbukti memiliki peran penting dalam membangun peradaban bangsa," ujar Gatot saat pembukaan pameran. Pameran "Kisah Negeri 1001 Candi" merupakan tindak lanjut dari kegiatan penerbitan buku Candi-candi di Indonesia.

Pameran menampilkan foto-foto candi yang ada di berbagai daerah di Indonesia, informasi mengenai sejarah candi dan teknik pembuatannya, serta ada juga miniatur Candi Borobudur. Beberapa kegiatan pendukung dalam pameran antara lain talk show, workshop membatik, workshop wayang kardus, dan perlombaan menggambar untuk anak-anak.

Penulis: B. Satriaji/Jakarta