Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pendidikan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Januari 2014

Dokter Baru Unila Diambil Sumpah

BANDARLAMPUNG, teraslampung.com--Sebanyak 54 dokter baru dari Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Lampung (Unila) diangkat sumpah, di Gedung Serba Guna (GSG) Unila, Rabu (8/1).

Prosesi sumpah dokter ke-19 ini disaksikan oleh Rektor Unila, para dekan, wakil pejabat pemerintah provinsi, perwakilan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) wilayah Lampung, para dosen FK Unila, karyawan, serta keluarga para dokter.

Para dokter yang diangkat sumpahnya merupakan generasi pertama yang lulus dari penerapan pola Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) di FK Unila. Mereka telah mengikuti Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI) pada kisaran November 2013 lalu.

Selain itu, 54 dokter ini telah dinyatakan lulus yudisium pada 15 September dan 17 Oktober lalu. Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) tertinggi yakni 3,49 diraih oleh dokter Karina Permata Sari.

Rektor Unila Prof. Dr. Sugeng P. Harianto mengaku bangga atas keberhasilan para dokter. Ia juga menguraikan, di tahun 2013 FK Unila telah menorehkan kebanggaan atas diraihnya akreditasi A berdasarkan surat keputusan nomor 051/SK/BAN-PT/ak-XV/S/II/2013 dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi.

“Hal ini merupakan pencapaian yang membanggakan dan patut kita syukuri, mengingat untuk mencapai keberhasilan ini memerlukan komitmen, kerja keras, doa, dan dukungan dari semua pihak yang terlibat,” urai Rektor.

Rektor mengharapkan para dokter berkontribusi aktif dalam mengatasi masalah kesehatan yang ada di tanah air, untuk menunjang Indonesia sehat 2015 dan kebutuhan masyarakat agromedicine.
Para dokter disarankan untuk tetap belajar meskipun secara informal. Misalnya dengan mengakses internet, buku, majalah, jurnal, dan lainnya. Kemudian, dapat pula menempuh program magister atau spesialis. Dengan demikian, pengetahuan kedokteran dalam aplikasinya tetap berkesinambungan dan terbarukan.[] Hisna Cahaya

Sumber: unila.ac.id

Rabu, 01 Januari 2014

KKP Gandeng Unila Garap Pengembangan Pesisir Sumatera

Kondisi hutan mangrove di pesisir Lampung  (Dok Lampung Review)
BANDARLAMPUNG, teraslampung.com--Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menggandeng Lembaga Penelitian Universitas Lampung (Lemlit Unila) untuk menggarap dan mengembangkan daerah di ujung timur Pulau Sumatera.

“Eksplorasi tersebut dilakukan terkait masih rendahnya penanganan daerah pesisir maupun pulau terluar di Lampung,” ujar Ketua Lemlit Unila Admi Syarif, Rabu (1/1).

Admi Syarif mengatakan Unila ditunjuk sebagai lembaga partner atas dasar keberhasilan mengeksplorasi hutan mangrove di Lampung Timur seluas 1.000 hektare. Ke depan, Unila akan memfokuskan diri pada penelitian dan pengabdian masyarakat di wilayah pesisir dan pulau terluar.

Dengan mengeksplorasi wilayah tersebut, menurutnya akan mampu memberdayakan masyarakat sekitar sehingga dapat menaikkan derajat hidup masyarakat.

“Kegiatan ini bisa memberi nilai tambah masyarakat. Sebab, kami akan memberi pelatihan dan pengabdian, sehingga wawasan makin bertambah baik. Mereka dapat mengelola lahannya dengan baik dan hasilnya memiliki harga jual yang tinggi,” kata dia.

Untuk mewujudkan kerja sama tersebut, pihaknya akan melibatkan semua fakultas. Akan tetapi untuk tahap awal, Fakultas Hukum (FH) yang akan turun terlebih dulu. Saat ini FH Unila tengah menyusun peraturan desa (Perdes) setempat sebagai payung hukum yang mengakomodasi kehidupan masyarakat.

Kemudian kerja sama akan dilanjutkan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pengetahuan (FKIP) dan Fakultas Pertanian (FP). Yakni dengan memberikan pemberdayaan pendidikan dan olah tanah.

Selain itu, peran para peneliti dari mahasiswa Universitas Sriwijaya di Jepang dan Center for Internasional Foresty Research (Clifor) yakni lembaga riset center dari beberapa negara di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang sedang bekerja sama juga dilibatkan.

“Salah satu agenda menanam mangrove massal di sana,” paparnya.

Sebelumnya, ia merilis Lampung memiliki perairan laut seluas 24,820 km persegi atau 41,2 persen wilayah Provinsi Lampung, panjang garis pantai 1.105 km. Dengan 130 buah pulau pesisir maupun terluar bisa menjadi tempat obervasi, pendayagunaan, hingga objek wisata.

Untuk argowisata terus dilakukan, jadi pesisir tidak hanya pulau yang sedikit atau tanpa tuan, juga ramai wisatawan. “Itu membuat potensi pulau pesisir dan terluar kita dikenal banyak orang,” urainya.[] Mutiara

Sumber: unila.ac.id

Minggu, 29 Desember 2013

Seniman dan Anggota Komunitas Seni Belajar Media Baru

Workshop jurnalisme warga bertema seni-budaya  (TerasOSHN)

Mas Alina Arifin/Teraslampung.com

BANDARLAMPUNG—Sebanyak 20-an peserta workshop jurnalisme warga bertema seni budaya siap praktik membuat blog dan mengenal sistem website di  Sekretariat Dewan Kesenian Lampung, Jl. Sumpah Pemuda, Kompleks PKOR Way Halim Bandarlampung, Senin  (30/12).

Selain belajar membuat blog pribadi dan blog untuk organisasi, dalam pertemuan ketiga tersebut, panitia dari AJI Bandarlampung dan DKL akan mengumumkan pemenang lomba membuat tulisan seni-budaya.

“Kami sengaja memotivasi peserta untuk membuat liputan seni-budaya agar mereka serius. Kami berharap, selanjutknya para peserta akan melanjutkan kiprahnya untuk menekuni jurnalisme warga berbasis tema seni-budaya,” kata Ketua Litbang DKL, Hasanuddin ZA.

Hasanuddin mengatakan workshop menulis yang diselenggarakan DKL dan AJI Bandarlampung kali ini sengaja melibatkan para seniman dan anggota komunitas seni agar publikasi seni-budaya di Lampung makin banyak.

“Kegiatan ini sekaligus sebagai persiapan bagi DKL untuk meluncurkan website www.wartaseni pada awal 2014 mendatang. Nantinya para peserta bisa langsung menjadi kontributor website baru kami,” kata Hasanuddin.

Ketua panitia workshop, Yoso Mulyawan, mengatakan panitia sudah menyiapkan hadiah menarik berupa uang tunai kepada peserta yang tulisannya dianggap paling bagus.

“Jurinya terdiri dari para mentor workshop yang sudah diselenggarakan pada 22—23 Desember 2013. Selanjutnya pada 24 hingga 28 Desember peserta praktik menulis dibimbing mentor. Mereka langsung praktik lapangan,” kata ketua AJI Bandarlampung itu.

Budisantoso Budiman, salah satu mentor dari Kantor Berita LKBN Antara, mengatakan anggota komunitas seni dan seniman kini harus menguasai media baru (new media) sehingga tidak ketinggalan informasi.

“Kehadiran media baru—konvergensi media siber dengan media sosial—merupakan fakta yang tidak bisa dihindari. Melalui kegiatan workshop ini anggota komunitas seni dan seniman bisa menjadi pelaku media baru yang profesional. Setidaknya mereka bisa menulis untuk blog dan media siber,” kata dia.

Jumat, 27 Desember 2013

Harapan dari Mubes UKPM Teknokra Unila

BANDARLAMPUNG, teraslampung.com--Meningkatkan Intergritas, Solidaritas, dan Kompetensi Insan Teknokra agar Lebih Berkualitas. Itulah tema yang dipilih Unit Kegiatan Penerbitan Mahasiswa (UKPM) Teknokra dalam agenda Musyawarah Besar (Mubes) XXIII nya. Pembukaan Mubes diadakan di Ruang Sidang Graha Kemahasiswaan Universitas Lampung (Unila), Jumat (27/12) pagi.

“Teknokra merupakan salah satu wadah organisasi kemahasiswaan tempat kita belajar jurnalistik sekaligus belajar tentang kepemimpinan,” ungkap Rudiansyah, Pemimpin Umum UKPM Teknokra dalam sambutannya. Menurut Rudi, organisasi adalah tempat untuk berkarya dan menghasilkan karya.

“Organisasi kemahasiswaan seperti UKPM Teknokra dan organisasi kemahasiswaan lain di Unila adalah kawah candradimuka untuk melakukan sebuah perubahan Unila kearah yang lebih baik,” kata Rudiansyah.

Namun, ia juga mengatakan bahwa semua tidak akan bisa terwujud tanpa adanya sikap saling mengapresiasi pada semua stakeholder Unila.

Pembantu Rektor III Unila dalam sambutannya yang diwaliki tim kerjanya, Mahdi Syahperi mengungkapkan bahwa Unila selalu mendukung kegiatan positif mahasiswa. Namun, ia mengatakan bahwa kegiatan di Unila perlu ada perapihan, supaya kegiatan kemahasiswaan seragam dan sesuai dengan dana kemahasiswaan.

Mahdi juga menyampaikan petuahnya, bahwa dalam pelaksanaan Mubes XXIII UKPM Teknokra seluruh anggotanya bisa mengambil esensi dari musyawarah besar itu sendiri. “Adu pendapat boleh, namun jangan sampai mengarah ke tindakan yang tidak logis, seperti gontok-gontokan,” pesannya.

Intinya, musyawarah itu menurut Mahdi adalah untuk mengevaluasi kinerja kepengurusan pada periode sebelumnya. “Jika ada yang kurang segera diperbaiki. Jika sudah baik, maka harus dipertahankan, bahkan harus ditingkatkan lagi,” tukas Mahdi. Ia berharap UKPM Teknokra bisa memilih pemimpin baru yang amanah.

Ia juga berharap, UKPM Teknokra bisa menjadi penyambung suara mahasiswa. “Jika ada ketidakadilan yang dialami mahasiswa, UKPM Teknokra harus menelusurinya,” ungkap Mahdi lagi.

Mahdi mencontohkan, misalnya ada laporan tentang mahasiswa bidik misi, namun kuliah menggunakan motor atau mobil mahal, segera buktikan wacana itu. “Maka nantinya tim bidik misi akan segera menindaklanjuti mahasiswa yang bersangkutan. Jika terbukti dia memang anak orang mampu, namun menerima beasiswa bidik misi, maka beasiswanya bisa dicabut,” tegas Mahdi.

Pembukaan Mubes XXIII UKPM Teknokra ini juga dihadiri beberapa alumninya, perwakilan unit kegiatan mahasiswa di Unila, serta Lembaga Penerbitan Mahasiswa (LPM) dari universitas lain di Bandar Lampung.[] Andro

Sumber: unila.ac.id

Senin, 23 Desember 2013

FMIPA Universitas Lampung Raih ISO 9001:2008


BANDARLAMPUNG, teraslampung.com--Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Lampung (FMIPA Unila) akhirnya menyusul FEB Unila dalam hal meraih ISO 9001:2008. Penyerahan sertifikat dilakukan Rektor Unila Prof. Dr. Ir. Sugeng P. Harianto, M.S., Senin (23/12), di Gedung Serba Guna (GSG) Unila.

Dekan FMIPA Unila, Prof. Suharso Ph.D. mengatakan bahwa dalam penilaian untuk mendapatkan ISO tersebut dilakukan audit mulai dari pimpinan fakultas, tim ISO FMIPA, bidang akademik, bidang umum dan perlengkapan, bidang kemahasiswaan dan bidang keuangan dan kepegawaian.

“Kita berharap FMIPA bisa menjalankan tupoksinya dengan baik dan semakin meningkatkan kualitas fakultas menjadi lebih baik. Dalam kesempatan ini juga dekan selaku pimpinan fakultas mengucapkan terimakasih kepada seluruh pihak yang telah membantu diraihnya sertifikasi ISO tersebut,” papar Acho–sapaan akrab Dekan FMIPA Unila, di ruang kerjanya.

Sumber: fmipa.unila.ac.id

Minggu, 22 Desember 2013

Adaptasi Kurikulum 2013 untuk Anak Berkebutuhan Khusus

B. Satriaji/Teraslampung.com

Bandung—Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sedang menyiapkan adaptasi kurikulum 2013 bagi anak berkebutuhan khusus (ABK). Kurikulum tersebut rencananya akan diterapkan di 2014 mendatang, baik di sekolah khusus maupun bagi ABK di sekolah reguler.

“Prinsipnya pendidikan itu untuk anak. Jadi ada adaptasi kurikulum kepada kebutuhan anak, bukan anak yang beradaptasi dengan kurikulum. Ujiannyapun diadaptasi,” kata Direktur Pendidikan Khusus dan Layanan Khusus Pendidikan Dasar, Mudjito, usai peluncuran Provinsi Jawa Barat sebagai Provinsi Inklusif, di Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Jawa Barat, Senin (23/12).

Menurut Mudjito bentuk adaptasi kurikulum tersebut salah satunya dengan menggunakan media tiga dimensi. Selain itu, kata dia, karena tidak semua anak melanjutkan ke jenjang pendidikan lebih tinggi, maka kurikulum bagi ABK juga menyinggung pendidikan kecakapan hidup.

Anak-anak berkebutuhan khusus, kata Murdjito, tidak semua mampu belajar dalam bidang akademik. Mengatasi hal tersebut, sebelum kelas dimulai setiap anak akan menjalani terapi kompensatoris. Yaitu terapi adaptasi sebelum anak bergabung dan belajar bersama di dalam kelas.

Data di Kemendikbud menyebutkan hingga Desember 2013 sebanyak 116 ribu  dari 325 ribu ABK telah terlayani di pendidikan inklusi maupun reguler. Dari tahun 2011 hingga 2012, pertambahan jumlah anak mencapai 11 ribu siswa yang terlayani.

“Yang penting itu bukan inklusinya, tapi anak-anak terlayani,” katanya.
Selain menyiapkan kurikulum bagi ABK, saat ini UPI juga menyiapkan program Kependidikan dan Kewenangan Tambahan (KKT) bagi guru yang di sekolahnya terdapat ABK. Program KKT ditempuh selama dua semester.

Setelah lulus, para guru bisa kembali melayani siswanya di sekolah masing-masing. Bahkan, disampaikan Mudjito, UPI kebanjiran guru-guru yang mendaftar dalam program tersebut. Hal tersebut diamini oleh Rektor UPI, Sunaryo, yang saat itu sedang bersebelahan dengannya.



Jawa Barat Jadi Provinsi Pendidikan Inklusif

Siti Qodratin Aulia/Teraslampung.com

Bandung--Provinsi Jawa Barat mendeklarasikan diri sebagai provinsi pendidikan inklusif, Senin (23/12/2013).

Deklarasi ditandai dengan pembacaan naskah deklarasi oleh Wakil Gubernur Jawa Barat, Dedi Mizwar, dan penandatanganan prasasti oleh Dedi Mizwar, Direktur PKLK Dikdas Kemdikbud Mudjito, dan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Wahyudin Zarkasyi, di Gymnasium Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Bandung, Jawa Barat.

Wagub Dedi Mizwar mengatakanpendidikan inklusi menjadi tonggak lahirnya paradigma pendidikan yang menghargai perbedaan. Sekolah, kata dia, harus lebih terbuka, ramah anak, dan tidak diskriminatif.

"Sekolah inklusif adalah sistem pendidikan terbuka yg mengakomodasi semua kebutuhan sesuai kondisi masing-masing anak," katanya.

Direktur PKLK Dikdas Mudjito mengatakan, Provinsi Jabar adalah salah satu penerima anugerah Inclusive award dari pemerintah pusat dan Kerajaan Norwegia. Selain itu, Provinsi ini juga tercatat sebagai satu dari lima provinsi inklusif.

"Jabar adalah salah satu penerima penghargaan inklusive award bersama jatim dan DKI Jakarta," katanya.

Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat, Wahyudin Zarkasyi mengatakan, sebelum deklarasi program ini dilaksanakan, Pemprov Jabar telah melakukan seleksi SD dan SMP yang akan dijadikan model pendidikan inklusif.

Selain deklarasi sebagai provinsi inklusi, kesempatan ini juga momen peluncuran Pergub Jabar no 72 tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Inklusif. Deklarasi Provinsi Jawa Barat sebagai provinsi Inklusif dihadiri oleh tiga ribu orang. Diantaranya dari PGRI, Pemda Jabar, Pemkot dan Pembkab se Jabar, Asosiasi PAUD, kepala sekolah dan pengurus SLB, serta kelompok kerja pendidikan inklusif

Senin, 09 Desember 2013

Puluhan Guru Ikuti Workshop Pendidikan Inklusif

M. Ali Amiruddi/Teraslampung.com

METRO—Pemerintah Kota Metro mengadakan Workshop Guru Mata Pelajaran Pendidikan Inklusif, di Aula Palem Indah, Ganjar Agung, Metro 9—12 Desember 2013.

Kegiatan yang diikuti puluhan guru itu bertujuan untuk menyosialisasikan pendidikan inklusif pada guru mata pelajaran yang memiliki anak berkebutuhan khusus serta mendorong kesadaran publik tentang pentingnya pendidikan inklusif bagi Anak Berkebutuhan Khsusus (ABK), dengan panitia penyelenggaran berasal dari Pokja Pendidikan Inklusif Kota Metro.

Ketua Pokja Pendidikan Inklusif Pendidikan Kota Metro, Rifian Hadi, S.Pd. M.Pd, mengatakan Kota Metro adalah Kota Pendidikan dan sudah ditetapkannya sebagai Pusat Pendidikan Inklusif.

“Kita layak bangga karena Kota Metro menjadi pilot project pendididikan inklusif di Indonesia. Dengan begitu, kita harus bersama-sama bekerja keras mewujudkan Kota Metro sebagai Pusat Pendidikan Inklusif,” kata dia.

Rifian mengatakan pendidikan inklusif di Metro menuntut kerja keras Pemerintah Kota dengan melibatkan Dinas Pendidikan sebagai pemangku kebijakan untuk mempersiapkan segenap sarana dan prasarana sekaligus sarana pendidik dan kependidikan.

“Untuk mewujudkan semua itu kita harus mampu menjadi tim yang kompak. Dengan begitu, diharapkan Kota Metro benar-benar pantas untuk menyandang gelar sebagai Kota Pendidikan sekaligus sukses menjadi daerah percontohan program pendidikan inklusif,” kata Rifian.

Kegiatan workshop selama empat hari tersebut diikuti 60 guru mata pelajaran pendidikan inklusif. Yaitu para guru yang saat ini bertugas di dalam lembaga yang menjadi salah satu proyek percontohan program pendidikan inklusif.

Kamis, 05 Desember 2013

Hore! Tunjangan Sertifikasi Guru Cair


BANDARLAMPUNG—Para guru di Kota Bandarlampung yang selama ini menunggu pencairan dana tunjangan sertifikasi kini tersenyum lega. Tunjangan sertifikasi mereka sudah masuk ke rekening sejak Selasa, 2 Desember 2013 lalu.
Data di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Bandarlampung menyebutkan dana tunjangan sertifikasi untuk 3.533 guru pendidikan dasar (Dikdas) se-Bandarlampung  mencapai Rp 3, 8 miliar. Perinciannya: 201 guru TK, 1.993 guru SD, 1.308 guru SMP, dan 31 pengawas sekolah.

"Nilai tunjangan sertifikasi tiap menerima adalah sebesar gaji pokok. Kami berharap dana itu bisa dimanfaatkan sebaik-baiknya dan bisa memotivasi guru meningkatkan kualitasnya," kata Khairul Athar, Kepala Seksi Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan Bandaralampung, Jumat (6/12/2013).

Khairul mengaku pihaknya hanya bertugas memfasilitasi para guru untuk mendapatkan hak-haknya. Jika semua persyaratan sudah dipenuhi, kata Khairul, proses pencairannya akan mudah.

"Saya selalu mengingatkan agar semua peserta sertifikasi harus mengirim data ke pusat melalui operator sekolah. Persyaratan harus diisi dengan benar. Misalnya data tentang jam mengajar minimal 24 jam (sesuai dengan sertifikasi pendidik), dan lulus pendidikan dan pelatihan profesi guru (PLPG),” kata dia.

Khairul mengatakan  pada Desember 2013 masih ada sejumlah guru yang masih akan mengikuti proses sertifikasi di PLPG.

Penulis: Ihsan

Pameran Candi Digelar di Mal

Pameran Candi di Art and Culture Lotte Shopping Avenue, Jakarta, 2-8 Desember 2013.
JAKARTA, teraslampung.com—Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) menggelar pameran "Kisah Negeri 1001 Candi" di Art and Culture Lotte Shopping Avenue, Jakarta, 2—8 Desember 2013.Pameran tersebut dimaksudkan untuk mendekatkan warisan budaya dengan masyarakat perkotaan.

"Kami ingin ‘memindahkan’ candi ke tengah-tengah kita, masyarakat perkotaan. Supaya informasi tentang candi, baik mengenai konsep pembangunan dan teknik pembangunan, sampai di masyarakat perkotaan," kata Sri Patmiarsi R, Kepata Sub-Direktorat Eksplorasi dan Dokumentasi Ditjen Kebudayaan Kemdikbud, di Jakarta, Kamis (5/12).

Sri mengatakan mal dipilih sebagai lokasi pameran untuk mendekatkan budaya fisik kepada masyarakat yang ada di perkotaan. Sehingga diharapkan, tidak hanya masyarakat di pedesaan yang mengenal candi, tetapi juga masyarakat perkotaan.

Sementara Sekretaris Ditjen Kebudayaan Gatot Gautama mengatakan, saat ini terdapat berbagai tantangan dalam pelestarian candi-candi di Indonesia. Di antaranya minim informasi masyarakat mengenai upaya konservasi dan pelestarian candi sebagai cagar budaya. Untuk mengatasi masalah tersebut, Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman menyelenggarakan pameran dengan memilih mall sebagai lokasinya.

"Tujuan pameran ini agar masyarakat dapat berperan dalam pelestarian warisan budaya bangsa, yang terbukti memiliki peran penting dalam membangun peradaban bangsa," ujar Gatot saat pembukaan pameran. Pameran "Kisah Negeri 1001 Candi" merupakan tindak lanjut dari kegiatan penerbitan buku Candi-candi di Indonesia.

Pameran menampilkan foto-foto candi yang ada di berbagai daerah di Indonesia, informasi mengenai sejarah candi dan teknik pembuatannya, serta ada juga miniatur Candi Borobudur. Beberapa kegiatan pendukung dalam pameran antara lain talk show, workshop membatik, workshop wayang kardus, dan perlombaan menggambar untuk anak-anak.

Penulis: B. Satriaji/Jakarta

Rabu, 04 Desember 2013

Kurilukum 2013 Disepakati Berlaku Mulai 2014

Penandatanganan kesepakatan implementasi Kurikulum 2013, di Kantor Kemendikbud, Jakarta, Selasa (2/12).  (FotoDok Kemendikbud)
JAKARTA, teraslampung.com--Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) bersama-sama dengan pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota menyepakati implementasi Kurikulum 2013 dan Ujian Nasional pada tahun 2014 mendatang. Kesepakatan ditandatangani oleh Sekretaris Jenderal Kemdikbud Ainun Na’im dan perwakilan dari sembilan kepala dinas kabupaten/kota di Indonesia pada penutupan Rapat Koordinasi Implementasi Kurikulum 2013, Ujian Sekolah/Madrasah, dan Ujian Nasional Tahun 2014 di Hotel  Grand Sahid Jaya, Jakarta, Selasa (3/12/2013).

Sekretaris Badan Penelitian dan Pengembangan Kemdikbud, Dadang Sudiyarto, mengatakan kedua pihak sepakat melaksanakan ujian sekolah/madrasah (us/m) Tahun Pelajaran 2013/2014 dengan sejumlah ketentuan. Pertama, Kemdikbud menyiapkan kisi-kisi dan soal kendali.

Kedua, pemerintah provinsi berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota menyiapkan materi, penggandaan, dan pendistribusian bahan us/m. “Ketiga, pemerintah kabupaten/kota berkoordinasi dengan pemerintah provinsi melakukan pengawasan, pengumpulan jawaban, dan pengolahannya,” katanya.

Dadang mengatakan, terkait pelaksanaan Ujian Nasional SMP/MTS, SMA/SMK/MA/MAK, Kemdikbud menyiapkan anggaran pelaksanaan, pemerintah provinsi menjadi ketua/anggota pelaksana UN SMP/MTS, SMA/SMK/MA/MAK dan sederajat untuk penggandaan dan pendistribusian bahan UN di Region masing-masing. “Pemerintah provinsi membentuk panitia pelaksana UN tingkat provinsi dan pemerintah kabupaten/kota membentuk panitia pelaksana UN tingkat kabupaten/kota,” katanya.

Kesepakatan berikutnya, pemerintah kabupaten/kota berkoordinasi dengan pemerintah provinsi untuk pendistribusian bahan UN.

Adapun terkait implementasi Kurikulum 2013 pada tahun 2014, Dadang mengatakan, Kemdikbud menyiapkan anggaran untuk penyiapan naskah buku, penggandaan, dan distribusi buku semester satu melalui dana BOS. Selain itu, memberikan pelatihan instruktur nasional dan sebagian guru sasaran, serta penyiapan materi dan bimbingan teknis pendampingan dan monitoring dan evaluasi.

Sementara, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota bersama-sama menyiapkan dukungan anggaran untuk penggandaan dan distribusi buku semester dua sampai ke sekolah. Dukungan anggaran ini ditujukan untuk kelas I, II, IV, V, VII, VIII, X, dan XI. “Penyiapan anggaran ini berlaku bagi pemerintah kabupaten/kota yang tidak mendapatkan dana alokasi khusus (DAK) pendidikan,” kata Dadang.

Kesepakatan lainnya:  pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota bersama-sama menyiapkan dukungan anggaran pelatihan guru sasaran kelas I, II, IV, V, VII, VIII, X, dan XI. Selanjutnya, pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota bersama-sama menyiapkan dukungan anggaran untuk pelaksanaan pendampingan, monitoring dan evaluasi pelaksanaan Kurikulum 2013 di tingkat sekolah.

“Pemerintah provinsi dan pemerintah kabupaten/kota menindaklanjuti implikasi penerapan Kurikulum 2013, antara lain tentang muatan lokal, kepramukaan, dan peminatan,” kata Dadang.

Penulis: B. Satriaji

Jumat, 22 November 2013

38 Karya Inovasi PT Ikut ‘Inovasi Agroindustri Expo 2013’

JAKARTA, teraslampung.com--Sebanyak 38 penelitian inovatif karya beberapa perguruan tinggi di Indonesia siap mengikuti Ekspo Inovasi bertajuk ‘Inovasi Agroindustri Expo 2013’, 26 November 2013 di Gedung D Ditjen Pendidikan Tinggi Komplek Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Jakarta.

"Kami berharap pada masa mendatang hasil penelitian inovatif perguruan tinggi bisa dimanfaatkan dunia industri,"kata Sekretaris Ditjen Pendidikan Tinggi, Patdono Suwignjo, Jumat (22/11).

Patdono mengatakan ‘triple helix’ atau hubungan antara antara industri, perguruan tinggi, dan pemerintah perlu untuk ditingkatkan.

“Jika ‘jembatan’ antara industri dan perguruan tinggi belum disiapkan, maka pemerintah melalui unit dan kementerian terkait berupaya untuk membangun dan terlibat dalam menjembatani antara sektor industri dengan perguruan tinggi,” kata Patdono.

Ekspo tersebut akan memamerkan 38 hasil penelitian yang telah tersaring ketat oleh sistem penjurian yang melibatkan berbagai institusi seperti, LIPI, KADIN, Institut Pertanian Bogor, Universitas Indonesia, Kementerian Riset dan Teknologi, Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta Komite Inovasi Nasional.

"Kami menerima sekitar 500 proposal dari perguruan tinggi. Tim juri menyeleksinya secara ketat, akhirnya berhasil disaring 38 inovasi hasil penelitian yang kami nilai berorientasi industri,” kata Patdono.

Selain memamerkan hasil inovasinya, ke 38 peneliti yang lolos tersebut berkesempatan meraih hadiah yang telah dipersiapkan.

"Ini merupakan wujud apresiasi kami kepada peneliti sekaligus berharap dapat memotivasi civitas akademis perguruan tinggi lainnya untuk terus menciptakan inovasi yang berorientasi industri" ujar Patdono.

Teater STKIP Muhammadiyah Pringsewu Siap Pentas

PRINGSEWU, teraslampung.com--Teater Lotus STKIP Muhammadiyah Pringgsewu siap mementaskan lalon "Tak Ada Bintang di Dadanya", 3 Desember 2013 mendatang, di aula SMP Negeri 1 Gadingrejo, Pringsewu.

“Pementasan ini bertujuan untuk menumbuhkembangkan kreativitas berkesenian secara umum bagi kaum muda dan masyarakat sekolah bahkan kampus dalam pencarian nilai-nilai yang sesuai dengan pola laku hidup bermasyarakat, mencari nilai-nilai estetika dalam peran serta kelompok teater di setiap langkahnya menuju tatanan perteateran yang baik serta memberikan hiburan yang bersifat apresiatif pada masyarakat,” ujar Amanda Pertiwi, pimimpin produksi pentas itu didampingi Cherlly Anggraeni, Sekretaris Produksi, di Pringsewu, Jumat (22/11).

Lakon karya penyair Hamdy Salad dan disutradari oleh Vela Hidayah ini berkisah tentang guru yang tulus mengabdi untuk bangsanya. Pak Hasan, guru agama di sebuah SMA, hidup sangat sederhana. Ia tinggal bersama istrinya, sementara kedua anaknya sedang menempuh perguruan tinggi di daerah lain.

Pada suatu malam ketika guru Hasan sedang mengoreksi tugas-tugas yang diberikan kepada siswanya, ia ketiduran di kursi kerjanya. Hasan kemudian bermimpi bahwa dalam mimpi tersebut ada tiga orang siswanya yang sudah lulus menjadi berandal dan ingin membunuh guru tersebut dengan alasan karena khotbah-khotbahnya dulu di sekolah menjadikan hidup mereka menjadi sengsara seperti sekarang ini.

Hasan terlihat panik sekali dalam mimpinya hingga akhirnya ia terbangun di pagi harinya dengan napas terengah-engah dan sangat ketakutan. Sang istri terheran-heran melihat raut wajah suaminya yang terlihat tidak seperti biasanya. Dan ketika mereka berdua sedang berbincang-bincang mengenai mimpi tersebut tiba-tiba beberapa murid guru tersebut datang ke rumahnya. Pak Hasan semakin takut karena mimpinya akan menjadi kenyataan.

Namun tanpa disangka-sangka ternyata beberapa murid tersebut mengunjungi rumah pak Hasan adalah untuk memberi ucapan selamat ulang tahun dan memberi kado sebuah lukisan bergambar pak Hasan lengkap dengan seragam gurunya disertai dengan lima bintang di dadanya. Pak Hasan sangat terkesan dengan lukisan tersebut tetapi beliau menyuruh salah seorang murid untuk melepas bintang tersebut dari dadanya karena guru tak memerlukan simbolis semacam itu.

Nuraini Soleha, asisten sutradara, mengantakan teater  mahasiswa merupakan sebuah proses perjalanan dalam pencarian nilai-nilai kesenian yang baru. Kegiatan berterater, kata Nuraini, juga dimaknai sebagai proses pembelajaran mahasiswa dalam pengembangan bahasa dan sastra khususnya seni drama/teater.

Teater Lotus pada awalnya terbentuk dari perkumpulan mahasiswa Jurusan Bahasa dan Seni Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP Muhammadiyah Pringsewu Lampung pada tahun 2013.

“Pementasan tersebut diharapkan mampu membangkitkan kembali gairah berteater di Lampung terutama dikalangan mahasiswa, lebih spesifiknya di Kabupaten Pringsewu agar mendorong generasi muda teater kita lebih produktif dan kreatif dalam mensikapi menata masa depan di bidang kesenian yang lebih baik dan dapat menjadi kebanggaan,” kata Haykal M. Nur Humas Produksi pentas tersebut menambahkan.

Aktor yang akan terlibat dalam pentas itu Haykal M. Nur, Ade Ariyanti, Wahid Fauzi Nur, Syahrul Munir, Agus Waluyo, Aris Setia Budi, Ratnasari, Resti Cahyani. Lantas untuk koor Anna Fitriani, Nuraini S, Veriasih Cahyani R, Cherlly Anggraeni, Surminah, Rani Fair Play K, Novitasari, Imas Sulistina, Eka Yunianingsih, Bayu Putriyana, Desi Komala Sari, Riki Setiawan, Eko Saputro.

Setting pentas itu ditangani Imas Sulistina dan Eka Yunianingsih, penata cahaya Agus Waluyo, Penata musik Wahid Fauzi Nur. Kemudian kostum dan make up ditangani Anggi May Lestari dan Anna Fitriani. Lalu properti ditangani Rani Fair Play Kinensi dan Bayu putriana.

“Penyelenggara kegiatan bekerjasama dengan guru Bahasa Indonesia dan Seni Budaya tingkat SMA untuk dapat mengadirkan siswa-siswi SMA seputaran Kabupaten Pringsewu sebagai apresiator pentas tersebut,” ujar Estetika Arum Mawarni, Bendahara Produksi pentas itu lalu menambahkan anggaran pertujunkan itu sekitar Rp14.552.000.

Penulis: Ratu Ulangan

Kamis, 21 November 2013

FMIPA Unila Tambah Dua Guru Besar



BANDARLAMPUNG, teraslampung.com--Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) Universitas Lampung menambah dua guru besar. Kedua guru besar baru FPMIPA adalah Prof. Dr. Buhani M.Si  dan Prof. Dr. Warsito DEA.

Sebelumnya Fakultas FMIPA Unila sudah memiliki 7 guru besar. Namun, seorang guru besar meninggal, sementara seorang lagi pindah ke fakultas lain. Dengan bertambahnya dua guru besar berarti FMIPA Unila kembali memliki  tujuh guru besar, yaitu Prof. Dr. Ida Farida, Prof. Dr. John Hendry, Prof. Dr. Suharso Ph.D, Prof. Dr. Tati Suhartati, Prof. Dr. Sutopo Hadi, Prof. Dr. Buhani M.Si  dan Prof. Dr. Warsito DEA.

Dekan FMIPA Unila, Prof. Suharso Ph.D, di Bandar Lampung, mengatakan, bertambahnya guru besar di FMIPA diharapkan akan meningkatkan mutu pendidikan di fakultas tersebut.

“Apalagi untuk menjadi guru besar memang tidak mudah. Ada beberapa syarat untuk menjadi seorang guru besar yakni harus sudah S3/Doktor, angka kredit yang dimiliki harus sudah terkumpul sebanyak 850, kemudian dilihat dari pengajaran, pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat yang pernah dilakukan,” kata Prof. Suharso, Kamis (21/11).

Buhani dan Warsito tercatat sebagai guru besar yang ditetapkan paling cepat di Unila, yaitu hanya 13. Pada 17 September 2013 keduanya melengkapi syarat pengajuan guru besar dan SK terbit pada tanggal 30 September 2013 sehingga pada tanggal 1 oktober 2013 telah resmi menjadi guru besar.

“Kami berharap keduanya akan terus memberikan kontribusi yang lebih baik untuk kampus ini. Penetapan guru besar ini terbilang cepat karena ini merupakan bentuk aplikasi dari program universitas lampung yakni layanan prima,” kata Prof. Suharso.

Prof. Suharso mengatakan awalnya FMIPA mengajukan 5 calon guru besar yakni Prof. Simon Sembiring, Prof. Yandri, Prof. Posman Manurung Prof. Dr. Buhani M.Si  dan Prof. Dr. Warsito DEA. Dua guru besar telah lolos tahapan dan untuk 3 calon guru besar yang belum lolos masih dalam tahapan perbaikan.

“Jika tidak ada halangan apapun dalam waktu dekat ini 3 calon guru besar tersebut akan juga menjadi guru besar FMIPA Universitas Lampung,” kata dia.

Unila menargetkan penambahan 10 persen guru besar pada tahun 2015 atau total 125 guru besar. Target ini untuk memacu semangat Unila dalam memberdayakan jumlah guru besarnya sehingga meningkatkan perguruan tinggi yang dikenal sebagai Kampus Hijau itu.

Pembantu Rekto1 I  Prof. Hasriadi Mat Akin, mengatakan Unila selalu mendorong para dosen untuk melakukan penelitian, mengajar lebih baik, dan melaksanakan Tri Darma di atas rata-rata. Dengan begitu, kata Hasriadi, tidak terjadi ketimpangan jumlah guru besar di masing-masing fakultas.

 “Untuk menunjang pemberdayaan dosen, harus ada motivasi dari dosen itu sendiri untuk mendapatkan gelar guru besar,” ujarnya.

Ketimpangan jumlah guru besar di Unila dimungkinkan karena hingga saat ini hanya satu fakultas yang boleh mengadakan program Strata 3, yaitu Fakultas Pertanian. Fakultas lain masih harus bekerjasama dengan universitas lain, seperti Fakultas Hukum masih bekerja sama dengan Universitas Diponegoro untuk program Strata 3.